Monday, 24 July 2017

Kawal Gerakan 10.000 Sebulan dengan Fintech

Salah satu yang menarik perhatian saya pada Munas Ikapete tahun ini adalah launching Gerakan 10.000 Sebulan. Ini adalah gagasan besar yang melibatkan hal kecil.
Barangkali ada yang mencibir kok 10.000? Kenapa tidak 100.00 saja? Itu kan terlalu receh? Biar!
Asal tahu saja, roda ekonomi Indofood CBP Tbk. bisa berputar karena peran recehan. Coba kalau Indomie produk mie sejuta ummat yang dimiliki Indofood itu dijual  dengan harga 100.000 per bungkus. Belum satu tahun bisa tutup itu pabrik. Tutup bukan karena ongkos produksinya besar tapi karena jualannya tidak laku.
Ibarat mencari ikan, Gerakan 10.000 Sebulan menurut saya adalah menjaring bukan memancing.
Harus diakui alumni Tebuireng yang tersebar di seantero dunia ini selain jumlahnya banyak juga berasal dari beragam kelas sosial ekonomi. Mulai dari yang berprofesi sebagai pengusaha, pengacara, sampai sopir truk ekspedisi. Asli, yang terakhir itu salah satu teman satu angkatan saya.
Kemampuan ekonomi mereka pun beragam. Mulai dari yang omset gaya hidupnya ratusan ribu sampai yang omset gaya hidupnya miliaran. Mulai dari yang tunggangannya Honda New Accord keluaran terbaru sampai Honda Astrea Grand keluaran zaman orde baru.
Dan satu hal yang saya yakin, mereka semua ingin bisa memberikan kontribusi bagi almamaternya tercinta. Tebuireng. Tujuan utama kebanyakan saya yakin adalah tabarukan. Ngalap Barokah.
Gagasan Gerakan 10.000 sebulan adalah gagasan untuk memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi semua alumni untuk dapat berkontribusi. Itu adalah angka yang bagi tukang tambal sekalipun tidak akan mikir dua kali untuk ikut ambil kesempatan.
Yang penting adalah istiqomah. Dan jika ribuan alumni Tebuireng mau istiqomah urunan angka yang dihasilkan pasti akan membuat kita kaget. Ya, yang penting adalah istiqomah.
Jika gagasan itu disampaikan beberapa tahun lalu, maka itu adalah gagasan yang layak ditertawakan. Karena biaya operasional untuk mengumpulkannya bisa jadi lebih besar dari yang didapat. Petugas jauh-jauh naik motor mendatangi rumah alumni cuma untuk ambil donasi 10.000, itu kalau bertemu orangnya, kalau tidak?
Tapi gagasan tersebut menjadi sangat masuk akal untuk perspektif kekinian. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan fintech. Fintech akronim dari financial technology adalah sebuah inovasi di bidang jasa finansial dengan memanfaatkan teknologi.
Gampangnya semua urusan keuangan Anda ada di genggaman. Semua menjadi tanggung jawab jempol tangan Anda.
Selain itu dengan memanfaatkan fintech kita turut membantu mensukseskan kampanye non tunai Bank Indonesia.
Misalkan kita menggunakan sebuah aplikasi fintech sebut saja AppX. Kita bisa membayar barang belanjaan kita di minimarket dengan aplikasi AppX itu. Tidak harus minimarket, andai pedagang sayur langganan kita juga menggunakan fintech kita juga bisa membayar kangkung yang kita beli cukup dengan menyentuh layar smartphone kita. Praktis dengan begitu kita tidak perlu lagi membawa dompet. KTP dan SIM dimasukkan saku saja.
Gerakan 10.000 Sebulan pun akan lebih mudah dengan menggandeng si AppX itu. Nganggur-nganggur daripada sosmed-an tidak jelas mending donasi saja. Bisa dikerjakan di mana saja, kapan saja dan sambil ngapain aja. Tapi jika saya ditanya aplikasi fintech apa yang kira-kira cocok? Saya tidak akan menjawab. Biar para alumni yang menggeluti dunia IT saja yang jawab.
Enak tho jadi saya?

Tuesday, 16 August 2016

Tambah Switch Internet Error

Permasalahan ini pernah saya alami sebelumnya, tapi ketika permasalah serupa muncul kembali saya lupa bagaimana solusinya. Sebab itulah saya tulis saja biar bila suatu ketila hamba yang penuh kekhilafan ini menemui permasalahan serupa, lebih mudah untuk mengingatnya. Karena biasanya sesuatu yang kita catat itu lebih mudah untuk diingat.
Permasalahan yang saya maksud adalah begini: di sekolah saya, SMP Zainuddin Waru, baru saja pasang jaringan internet fiber (hore... sambil teriak jingkrak jingkrak lalu berlutut sambil melirihkan kata "akhirnya..."), maka saya pun memigrasikan seluruh kebutuhan internet ke jaringam baru itu.
Sebenarnya ada 3 Wireless router yang salah satunya adalah modem. Namun pada jaringan yang sebelumnya hanya saya pasang 1 router. Setelah bermigrasi ke FO, saya pasang semua router.
Muncul masalah, laptop saya dan beberapa perangkat seluler guru yang lain tidak bisa terkoneksi ke internet meskipun tersambung ke jaringan WiFi dengan sinyal yang maksimal.
Laptop saya pun saya utak-atik. Ketika settingan IP saya tentukan (bukan obtain), internet lancar seperti bus sumber kencono, tetapi ketika setingan IP saya obtain, internet mogok.
Akhirnya setelah berdoa dan bersemedi, ketemulah permasalahannya. Pada Router yang ketiga seting DHCP masih ENABLE.
Setelah seting DHCP pada router tersebut dibikin DISABLE, koneksi internet berlari kencang.
DHCP sendiri secara sederhana adalah fitur untuk mengatur IP Address suatu perangkat yang terhubung ke jaringan, dengan catatan jika perangkat itu Obtain IP Address.
Karena dari ketiga router tadi seharusnya hanya boleh ada satu yang DHCPnya enable yaitu router yang menjadi modem.
Jika lebih dari satu, maka terjadi perebutan kekuasaan, siapa yang paling berhak menentukan IP Address.

Monday, 7 March 2016

MAIN KEMALAMAN, WAGIMIN HILANG

Cerita pengantar tidur untuk Afham:



Wagimin, seorang bocah yang hidup di zaman dahulu. Zaman saat listrik belum mengaliri kampung-kampung di Indonesia.
Suatu malam, Wagimin main keluar rumah dengan berbekal obor. Saking asiknya bermain, Wagimin enggan pulang.
Ketika malam semakin larut, orang tua Wagimin mencari ke mana-mana. Namun Wagimin tak kunjung ditemukan. Mereka mencari ke rumah teman-temannya namun mereka tak ada yang tahu di mana Wagimin berada.
Karena situasi dianggap sudah mengkhawatirkan, orang tua Wagimin memutuskan untuk melapor pak Lurah.
Pak Lurah pun mengerahkan warga untuk berkumpul. Ada yang membawa obor, ada yang membawa kentongan. Hampir semua warga desa laki-laki ikut serta.
Oleh pak Lurah mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyisir daerah-daerah yang dianggap singit (misterius). Seperti barongan (gugusan pohon bambu), bendungan, ladang, lapangan desa dan lain sebagainya.
Setelah berjam-jam berkeliling tanpa hasil, pak Lurah memutuskan untuk menghentikan pencarian. Lagi pula sudah terlalu larut malam.
Orang tua wagimin pun pasrah. Sang ibu tak bisa menahan air mata kesedihannya.
Saat menjelang subuh, wak modin pergi ke masjid untuk mempersiapkan shalat jamaah shubuh.
Saat wak Modin hendak wudlu ia terkaget karena mendapati ada seorang bocah yang tidur di tempat wudlu. Setelah diamati lebih teliti dengan bantuan lampu ublik, wak Mudin dapat memastikan bocah itu adalah Wagimin yang semalaman dicari orang sekampung. Ia tertidur sangat pulas sampai pipinya dipenuhi air liur yang mengering.

Friday, 2 October 2015

Aplikasi Tabungan Sekolah

Berawal dari permintaan istri saya untuk dibuatkan aplikasi tabungan sekolah akhirnya saya putuskan untuk membagi aplikasi tabungan sekolah ini kepada publik dengan beberapa perubahan untuk menyesuaikan kebutuhan secara umum tentu saja.
Aplikasi tabungan sekolah ini adalah aplikasi yang amat sangat sederhana yang dibuat dengan pengetahuan dan kemampuan seadaanya. Aplikasi ini saya buat dengan menggunakan Microsoft Excel dan VBA (Visual Basic Application).
Bagi yang berminat silakan download di :

Semoga Bermanfaat

Thursday, 14 August 2014

Memahami Dunia Remaja

Barangkali dunia remaja sudah tidak relevan lagi bagi saya. Perubahan umur membuat saya mengalami perubahan. Ketertarikan saya kepada sesuatu yang bersifat remaja sudah memudar. Saya tidak lagi tertarik dengan sinetron-sinetron remaja, program tv music show, novel remaja dan lain-lain yang dulu pernah saya suka. Saya sudah tidak lagi hafal nama-nama artis pendatang baru yang digemari remaja.
Namun sebagai guru SMP saya merasa perlu untuk mengenal dunia remaja lagi. Saya mulai belajar menghafal sinetron-sinetron remaja dan para aktrisnya. Saya menjadi mengerti bahwa Cherrybelle itu girlsband sedangkan JKT48 itu idol group, meskipun mereka sama-sama menari sambil menyanyi bukan menyanyi sambil menari. Karena aksi koreografinya lebih ditonjolkan daripada musikalitasnya. Bahkan, yang saya tidak bisa pahami, ada sekelompok remaja yang terlibat perdebatan sengit di dunia maya karena permasalahan idol group bukanlah girlsband biasa. Perdebatan ini terasa lebih penting dari perlu tidaknya mencabut subsidi BBM.
Saya jadi mengenal bahasa-bahasa atau istilah-istilah yang sedang ngetrend di kalangan remaja, yang tak jarang mereka gunakan di kelas. Istilah-istilah itu seringkali bermakna tidak seperti makna sebenarnya. Modus, famous, dan lain-lain yang perkembangannya sangat cepat seperti perkembangan teknologi informasi. Kata yang sedang ngetrend dipakai tiga bulan yang lalu bisa jadi terkesan jadul dan ketinggalan jaman bila digunakan sekarang.
Keuntungan dari memahami perkembangan dunia remaja bagi saya adalah bisa mendekatkan jarak psikologis antara saya dan anak didik saya. Terkadang ketika saya menggunakan istilah yang sedang ngetrend di kalangan mereka, mereka menjadi lebih antusias dan memberikan perhatian lebih kepada saya.
Ada sedikit pengalaman nyata:
Ketika saya masuk ke dalam kelas 7 yang berisikan para murid baru untuk pertama kalinya, tentu terlebih dahulu saya lakukan adalah perkenalan.
"Sudah tahu nama saya?" begitu saya memulai perkenalan.
"Belum" jawab mereka serempak dengan ekspresi yang datar minim antusiasme.
Namun begitu saya ambil spidol dan menuliskan sebuah kata di whiteboard: "ALIANDRO", ekspresi mereka mulai dinamis. Sudah mulai ada kasak-kusuk penasaran di kelas.
Aliandro adalah nama salah satu artis pendatang baru  yang sedang ngetren karena menjadi pemeran utama di sinetron yang sedang digandrungi remaja (termasuk anak SD): "Ganteng-Ganteng Srigala".
"Nama saya..." kata saya sambil menunjuk ke arah whiteboard dan menghirup napas dalam-dalam untuk meningkatkan suasana tegang dan penasaran.
"... Bukan ini..." sambung saya.
Suasana pun langsung gerrr... Ketika mereka menyadari telah masuk perangkap saya.
Setelah itu mereka pun lebih antusias mengikuti sesi perkenalan.
Konsekuensinya, tidak jarang kalau di luar jam pelajaran mereka menyapa saya dengan "Ustadz Aliandro..."
Tak apa, toh wajah saya dan aliandro itu 11-17.

Thursday, 7 August 2014

Bekerja dengan Menggunakan Fasilitas Warkop

Di beberapa kantor tempat bekerja berlaku peraturan yang sangat ketat. Pegawai dilarang menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan yang bersifat pribadi. Smile Printing tempat saya biasa mencetak plat cetak dan A3 laser memiliki aturan yang juga cukup ketat untuk para pegawainya. Mereka melarang pegawai menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi seperti, telepon, internet, kendaraan dan macam-macam lainnya.
Melihat hal itu saya jadi teringat warkop atau warung kopi. Saya sudah hobi nongkrong di warung kopi sejak masih sekolah, saat masih nyantri di Pesantren Tebuireng saya gemar nongkrong di warkop Narti. Kalau teman-teman nongkrong di sana karena ingin merokok sembunyi-sembunyi (peraturan pesantren melarang santri merokok), saya tidak. Entahlah saya hanya merasa rileks kalau nongkrong di warkop meski hanya ditemani secangkir kopi.
Kebiasaan nongkrong di Warkop itu berlanjut ketika saya kuliah. Namun agak berbeda dengan ketika masih nyantri. Saat kuliah saya sering nongkrong di warkop untuk menyimak koran. Bahkan hingga semua berita baik yang penting maupun yang tidak penting, yang berhubungan dengan minat saya atau yang tidak berhubungan dengan minat saya, saya baca.
Selanjutnya hobi ngopi itu semakin mak nyus ketika banyak warkop yang mulai melengkapi diri dengan fasilitas mentereng layaknya kafe-kafe mahal seperti area free WiFi dan TV kabel. Gila! hanya bermodalkan uang 2 ribu rupiah untuk memesan kopi kita bisa menikmati apa yang bisa kita dapatkan di kafe-kafe yang mengharuskan kita merogoh kocel minimal 50 ribu rupiah.
Orang-orang awam mungkin masih menganggap warung kopi adalah tempatnya orang-orang pekerja kasar, orang-orang yang hobi taruhan, orang-orang yang tidak ada kerjaan. Barangkali iya, tapi itu dulu. Kini dengan munculnya fasilitas-fasilitas modern tersebut warung kopi telah mengundang berbagai macam kalangan untuk nongkrong di sana, termasuk saya. Justru saya seringkali terbantu oleh warung kopi. Pertama, adalah kopi. Kopi adalah minuman favorit saya setelah air putih. Yang kedua adalah koran. Saya tidak perlu berlangganan koran untuk tidak ketinggalan informasi terbaru atau perspektif berpikir para tokoh dan akademisi yang ditulis pada kolom opini. Yang ketiga WiFi. Ini yang paling penting dengan adanya akses internet gratis saya bisa seharian nongkrong di Warkop tapi tidak untuk berleha-leha melainkan untuk bekerja. Ya, bekerja. Bekerja di Warkop. Bukan, bukan jualan di warkop. Tapi menggunakan fasilitas Warkop untuk bekerja. Ketika ada kerjaan desain saya bisa mendownload berbagai macam bahan desain yang saya butuhkan atau sekedar mencari referensi. Atau terkadang kalau berkirim email untuk mengirimkan contoh desain kepada klien. Dan pagi ini, saya mendownload video untuk materi mengajar saya. Kurikulum 2013 mengharuskan saya menjadi guru yang kreatif. Apalagi SMP Zainuddin tempat saya mengabdi, tahun ini sudah melengkapi diri dengan LCD Projector dan Speaker aktif untuk menunjang kegiata belajar mengajar.
Jadi kalau saya nongkrong di warkop itu bukan sedang tidak ada kerjaan melainkan sedang repot-repotnya. Kadang-kadang enggak juga, sih.

Terima kasih Warkop.

Monday, 17 February 2014

Pakar Gunung Api

"Beri kesempatan Gunung untuk memberikan kesuburan bagi bumi melalui letusannya, kita untuk sementara minggir dulu. Nanti kalau selesai kita balik lagi," kata Surono, Kepala PVMBG.

Akademisi yang gaya bahasanya seperti filosof. Seperti ahli tasawwuf.
Seorang anak bangsa dengan kepakaran yang langka, PAKAR VULKANOLOGI.

Adakah di antara kita yang bercita-cita menjadi ahli ke-Gunung Api-an?
Atau malah takut dikata-katain sebagai Mbah Maridjan KW 2.

Padahal negeri ini adalah Ring of Fire. Gudangnya gunung api yang sambung-menyambung menjadi satu.