Thursday, 14 August 2014

Memahami Dunia Remaja

Barangkali dunia remaja sudah tidak relevan lagi bagi saya. Perubahan umur membuat saya mengalami perubahan. Ketertarikan saya kepada sesuatu yang bersifat remaja sudah memudar. Saya tidak lagi tertarik dengan sinetron-sinetron remaja, program tv music show, novel remaja dan lain-lain yang dulu pernah saya suka. Saya sudah tidak lagi hafal nama-nama artis pendatang baru yang digemari remaja.
Namun sebagai guru SMP saya merasa perlu untuk mengenal dunia remaja lagi. Saya mulai belajar menghafal sinetron-sinetron remaja dan para aktrisnya. Saya menjadi mengerti bahwa Cherrybelle itu girlsband sedangkan JKT48 itu idol group, meskipun mereka sama-sama menari sambil menyanyi bukan menyanyi sambil menari. Karena aksi koreografinya lebih ditonjolkan daripada musikalitasnya. Bahkan, yang saya tidak bisa pahami, ada sekelompok remaja yang terlibat perdebatan sengit di dunia maya karena permasalahan idol group bukanlah girlsband biasa. Perdebatan ini terasa lebih penting dari perlu tidaknya mencabut subsidi BBM.
Saya jadi mengenal bahasa-bahasa atau istilah-istilah yang sedang ngetrend di kalangan remaja, yang tak jarang mereka gunakan di kelas. Istilah-istilah itu seringkali bermakna tidak seperti makna sebenarnya. Modus, famous, dan lain-lain yang perkembangannya sangat cepat seperti perkembangan teknologi informasi. Kata yang sedang ngetrend dipakai tiga bulan yang lalu bisa jadi terkesan jadul dan ketinggalan jaman bila digunakan sekarang.
Keuntungan dari memahami perkembangan dunia remaja bagi saya adalah bisa mendekatkan jarak psikologis antara saya dan anak didik saya. Terkadang ketika saya menggunakan istilah yang sedang ngetrend di kalangan mereka, mereka menjadi lebih antusias dan memberikan perhatian lebih kepada saya.
Ada sedikit pengalaman nyata:
Ketika saya masuk ke dalam kelas 7 yang berisikan para murid baru untuk pertama kalinya, tentu terlebih dahulu saya lakukan adalah perkenalan.
"Sudah tahu nama saya?" begitu saya memulai perkenalan.
"Belum" jawab mereka serempak dengan ekspresi yang datar minim antusiasme.
Namun begitu saya ambil spidol dan menuliskan sebuah kata di whiteboard: "ALIANDRO", ekspresi mereka mulai dinamis. Sudah mulai ada kasak-kusuk penasaran di kelas.
Aliandro adalah nama salah satu artis pendatang baru  yang sedang ngetren karena menjadi pemeran utama di sinetron yang sedang digandrungi remaja (termasuk anak SD): "Ganteng-Ganteng Srigala".
"Nama saya..." kata saya sambil menunjuk ke arah whiteboard dan menghirup napas dalam-dalam untuk meningkatkan suasana tegang dan penasaran.
"... Bukan ini..." sambung saya.
Suasana pun langsung gerrr... Ketika mereka menyadari telah masuk perangkap saya.
Setelah itu mereka pun lebih antusias mengikuti sesi perkenalan.
Konsekuensinya, tidak jarang kalau di luar jam pelajaran mereka menyapa saya dengan "Ustadz Aliandro..."
Tak apa, toh wajah saya dan aliandro itu 11-17.

Thursday, 7 August 2014

Bekerja dengan Menggunakan Fasilitas Warkop

Di beberapa kantor tempat bekerja berlaku peraturan yang sangat ketat. Pegawai dilarang menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan yang bersifat pribadi. Smile Printing tempat saya biasa mencetak plat cetak dan A3 laser memiliki aturan yang juga cukup ketat untuk para pegawainya. Mereka melarang pegawai menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi seperti, telepon, internet, kendaraan dan macam-macam lainnya.
Melihat hal itu saya jadi teringat warkop atau warung kopi. Saya sudah hobi nongkrong di warung kopi sejak masih sekolah, saat masih nyantri di Pesantren Tebuireng saya gemar nongkrong di warkop Narti. Kalau teman-teman nongkrong di sana karena ingin merokok sembunyi-sembunyi (peraturan pesantren melarang santri merokok), saya tidak. Entahlah saya hanya merasa rileks kalau nongkrong di warkop meski hanya ditemani secangkir kopi.
Kebiasaan nongkrong di Warkop itu berlanjut ketika saya kuliah. Namun agak berbeda dengan ketika masih nyantri. Saat kuliah saya sering nongkrong di warkop untuk menyimak koran. Bahkan hingga semua berita baik yang penting maupun yang tidak penting, yang berhubungan dengan minat saya atau yang tidak berhubungan dengan minat saya, saya baca.
Selanjutnya hobi ngopi itu semakin mak nyus ketika banyak warkop yang mulai melengkapi diri dengan fasilitas mentereng layaknya kafe-kafe mahal seperti area free WiFi dan TV kabel. Gila! hanya bermodalkan uang 2 ribu rupiah untuk memesan kopi kita bisa menikmati apa yang bisa kita dapatkan di kafe-kafe yang mengharuskan kita merogoh kocel minimal 50 ribu rupiah.
Orang-orang awam mungkin masih menganggap warung kopi adalah tempatnya orang-orang pekerja kasar, orang-orang yang hobi taruhan, orang-orang yang tidak ada kerjaan. Barangkali iya, tapi itu dulu. Kini dengan munculnya fasilitas-fasilitas modern tersebut warung kopi telah mengundang berbagai macam kalangan untuk nongkrong di sana, termasuk saya. Justru saya seringkali terbantu oleh warung kopi. Pertama, adalah kopi. Kopi adalah minuman favorit saya setelah air putih. Yang kedua adalah koran. Saya tidak perlu berlangganan koran untuk tidak ketinggalan informasi terbaru atau perspektif berpikir para tokoh dan akademisi yang ditulis pada kolom opini. Yang ketiga WiFi. Ini yang paling penting dengan adanya akses internet gratis saya bisa seharian nongkrong di Warkop tapi tidak untuk berleha-leha melainkan untuk bekerja. Ya, bekerja. Bekerja di Warkop. Bukan, bukan jualan di warkop. Tapi menggunakan fasilitas Warkop untuk bekerja. Ketika ada kerjaan desain saya bisa mendownload berbagai macam bahan desain yang saya butuhkan atau sekedar mencari referensi. Atau terkadang kalau berkirim email untuk mengirimkan contoh desain kepada klien. Dan pagi ini, saya mendownload video untuk materi mengajar saya. Kurikulum 2013 mengharuskan saya menjadi guru yang kreatif. Apalagi SMP Zainuddin tempat saya mengabdi, tahun ini sudah melengkapi diri dengan LCD Projector dan Speaker aktif untuk menunjang kegiata belajar mengajar.
Jadi kalau saya nongkrong di warkop itu bukan sedang tidak ada kerjaan melainkan sedang repot-repotnya. Kadang-kadang enggak juga, sih.

Terima kasih Warkop.

Monday, 17 February 2014

Pakar Gunung Api

"Beri kesempatan Gunung untuk memberikan kesuburan bagi bumi melalui letusannya, kita untuk sementara minggir dulu. Nanti kalau selesai kita balik lagi," kata Surono, Kepala PVMBG.

Akademisi yang gaya bahasanya seperti filosof. Seperti ahli tasawwuf.
Seorang anak bangsa dengan kepakaran yang langka, PAKAR VULKANOLOGI.

Adakah di antara kita yang bercita-cita menjadi ahli ke-Gunung Api-an?
Atau malah takut dikata-katain sebagai Mbah Maridjan KW 2.

Padahal negeri ini adalah Ring of Fire. Gudangnya gunung api yang sambung-menyambung menjadi satu.

Tuesday, 4 February 2014

Terapi Back To Children



Langkah kami terhenti ketika sampai pada sebuah pendopo terbuka berukuran tidak terlalu besar. Di situlah anak didik kami, siswa SMP Zainuddin kelas 8 berkumpul untuk mendapatkan materi tentang Herbarium. Karena seluruh kegiatan itu sudah dihandle oleh tim dari Taman Safari Indonesia Prigen, praktis kami, para guru hanya menjadi penonton.
Di luar sana hujan turun. Seorang guru tengok kanan tengok kiri mencari tempat sholat. Seorang guru yang lain asyik menikmati camilan. Seorang guru yang lain celingak-celinguk memandangi wahana permainan di sekitar pendopo itu. Lama beliau memandangi arena permainan bumper car. Ya, nama resminya adalah Bumper Car tapi orang-orang sering salah sebut menjadi Bombom Car. Tak apa. Itu bukan masalah serius buat negeri ini.
Setelah lama memandang akhirnya beliau melontarkan ajakan untuk menuju ke sana. Tiga-empat guru sepakat dengan ide itu, termasuk saya yang sedang bingung harus ngapain di pendopo ini. Tak lama setelah kami menjejakkan kaki di arena Bumper Car yang terletak di kontur tanah yang lebih tinggi dari pendopo itu, menyusul beberapa guru perempuan. Hingga akhirnya semua guru yang mendampingi siswa SMP Zainuddin berstudy tour di Taman Safari Prigen Pasuruan berkumpul di sana.


Awalnya kami ragu-ragu dan malu-malu untuk bermain Bumper Car karena faktor umur dan status guru pada kegiatan ini, apalagi kami masih mengenakan seragam mengajar, tapi karena sudah terlanjur di sana. Buat apa malu. Ya, sudah enjoy this game!
Sejenak kemudian wahana permainan Bumper Car pun riuh ramai dengan teriakan para guru SMP Zainuddin. Kami raja di sini, ini hari Senin. Tak banyak pengunjung lain di sini. Kalau diperhatikan tingkah polah para guru SMP Zainuddin itu seperti kembali ke masa kanak-kanak. Mereka bermain dengan riang gembira. Saling tabrak bumper car, gelak tawa membanjir di mana-mana. Senyum bahagia terlukis jelas di wajah mereka.
Sambil ketawa-ketiwi salah seorang guru nyeletuk, “Masa kecil kurang bahagia”. Kalimat itu cukup sering saya dengar ketika ada orang dewasa menikmati permainan yang sejatinya diperuntukkan untuk anak kecil. Tapi setelah saya renungi rasanya itu kurang tepat. Karena masa kecil saya dan juga mungkin guru-guru yang lain sudah cukup bahagia.
Saya pikir ini sesekali orang dewasa perlu melakukan permainan untuk anak-anak. Ini semacam terapi dengan melakukan permainan anak-anak, orang dewasa untuk sejenak akan kembali menikmati sensasi menjadi anak-anak. Segenap persoalan hidup menjadi terlupa. Anak-anak tidak punya persoalan hidup. Mereka hanya bermain dan bermain. Riang Gembira.
Saya pun menyebutnya terapi Back to Children.
Saya sering melakukan ini bersama anak saya yang berumur 2 tahun lebih. Awalnya saya hanya mendampingi anak saya bermain, lalu saya berpikir, kenapa saya tidak sekalian menikmati permainan ini layaknya anak kecil? Saya ikut main pasir, main mobil-mobilan, main bola, kejar-kejaran, main pesawat kertas, dan lain-lain. Dengan menikmati permainan anak-anak segala lelah fisik dan pikiran menjadi terlupakan. Pikiran menjadi lebih segar.
Kalau kita ingin menyegarkan pikiran, tidak ada salahnya menjadi anak kecil lagi.

Thursday, 9 January 2014

Harga Elpiji Non Subsidi Naik, Kok Hanya Dahlan Iskan yang Mengaku Salah ?



Beberapa hari belakangan ini ramai media menyoal kenaikan harga elpiji 12 kg alias elpiji non subsidi. Kenaikan yang mengagetkan di awal tahun. Menjadi ramai karena kenaikannya yang langsung drastis dan terjadi di awal tahun 2014 pula. Tahun politik, kata orang.
Maka para pejabat yang berlatak belakang partai politik pun tidak mau hal ini menjadi bumerang. Mereka beramai-ramai berstatemen bahwa mereka tidak terlibat dan tidak ikut bertanggung jawab atas kenaikan harga itu. Lalu mereka mengambil langkah-langkah agar kenaikan harga yang cukup tinggi tersebut dikoreksi.
Di antara jajaran para pejabat, yang paling bertanggung jawab adalah menteri BUMN dalam hal ini Dahlan Iskan. Karena strukturnya yang langsung membawahi Pertamina. Beliaupun menjadi sasaran tembak banyak orang termasuk para menteri lainnya yang menurut saya agak aneh. Hingga akhirnya Dahlan Iskan pun mengaku salah atas kenaikan harga tersebut.
Saya pikir pengakuan salah Dahlan Iskan itu kurang tepat dan hanya sekedar pantas-pantasan saja.
Bukankah yang naik harganya itu adalah elpiji 12 kg yang non subsidi? Bukan elpiji 3 kg yang bersubsidi!
Terlepas dari memberatkan atau tidak, bukankah elpiji non subsidi dan komoditi-komoditi non subsidi lainnya itu memang menyerahkan besaran harganya pada mekanisme pasar. Kalau harga dituntut harus naik ya naik, kalau harga dituntut turun ya turun. Tidak aturan yang dilanggar dalam kenaikan harga elpiji non subsidi.
Maka pengakuan salah Dahlan Iskan selaku atas Pertamina saya pikir kurang tepat. Pada sisi mana Pertamina melakukan pelanggaran? tidak ada.
Kalau pengakuan salah Dahlan Iskan itu sebagai pantas-pantasan saja, maka saya pikir itu sah-sah saja, agar para pengguna elpiji 12 kg selaku "korban" menjadi lega. Namun pertanyaan saya kemudian, kok hanya Dahlan Iskan yang mengaku salah?
Bukankah seharusnya Jero Wacik selaku menteri ESDM juga harus mengaku salah karena tidak bisa menyediakan gas mentah yang lebih murah bagi pertamina?
Bukankah Hatta Rajasa selaku Menko Perekonomian juga harus mengaku salah karena tidak bisa mengondisikan perekonomian yang tidak memberatkan Pertamina?
Bukankah Pak SBY juga harus mengaku salah karena bagaimanapun beliaulah pemimpin tertinggi negeri ini?

Apapun itu saya bukanlah ahli energi, saya juga tidak mengerti politik. Saya hanyalah rakyat kecil pengguna elpiji 3 kg yang berharap kenaikan harga elpiji 12 kg itu tidak membuat distribusi elpiji 3 kg menjadi bermasalah, langka dan lain sebagainya akibat maraknya peralihan pengguna elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg.

Friday, 3 January 2014

Kembali ke Jalan Blogger yang Benar

Saya pernah merasa (atau mungkin mengklaim diri) sebagai penulis. Hanya karena saya hobi menulis. Selain membaca dan sepak bola tentunya. Saya akui saya memang cukup sering menulis waktu itu. Tepatnya sejak saya SMP sampai kuliah. Bahkan ketika kuliah tulisan saya pernah dimuat di koran Jawa Pos. Tidak jarang saya menulis puisi. 
Hobi itu menjadi tersalurkan ketika saya mengenal blog. Maka tulisan-tulisan yang sebagian besar tercatat di kertas binder, menggandakan diri ke blog. Namun sejak menikah saya merasa mengalami penurunan intensitas menulis. Dan itu diperparah lagi oleh semakin ngetrennya social network facebook dan twitter. 
Sensasi facebookan yang hanya dengan menulis beberapa kata kemudian ada yang merespon dengan komentar dan begitu juga sebaliknya memberi respon dari status orang lain menciptakan keasyikan tersendiri dari berfacebook ria. Tidak jarang banyak waktu yang terbuang hanya untuk membaca status orang atau balas membalas komentar. 
Maka keasyikan seperti itu yang akhirnya semakin membuat saya “tersesat di jalan yang salah”. Klaim diri sebagai penulis patut dipertanyakan lagi. Kalau cuma tulisan satu dua kata di facebook siapapun bisa. Berbeda dengan di blog yang mengharuskan blogger untuk menulis setidaknya satu-dua paragraf. Dan itulah yang namanya penulis. 
Pernah saya mencoba membuat tulisan yang agak panjang di blog. Waktu itu judulnya “Perangkap Dahlan”. Selain di blog pribadi saya juga menguploadnya di kompasiana. Responnya ternyata tidak sedikit di kompasiana. Tapi sayang itu adalah tulisan blog terakhir saya yang sudah berbulan-bulan yang lalu. Ibarat nasi itu sudah tidak lagi menjadi bubur, tapi menjadi (apa ya?), bubur basi. 
Maka kini di awal 2014 saya memproklamirkan diri untuk lebih rajin lagi ngeblog.

Tuesday, 11 December 2012

PERANGKAP DAHLAN

Kiprah Menteri BUMN Dahlan Iskan sejak masuk ke pemerintahan sering membuat gebrakan. Hal ini sering mengundang reaksi para politisi. Entah karena gebrakan Dahlan mempengaruhi kepentingannya, atau karena gebrakan Dahlan membuat para politisi itu kecolongan momen untuk pencitraan. Citra yang sangat kinclong itu membuat citra politisi yang tidak kinclong-kinclong amat menjadi kelihatan meredup. Ibarat lampu stadion sepakbola yang daya pancaran cahaya sedemikian terang kalau disandingkan dengan benderangnya matahari siang hari maka lampu itu seperti tidak memancarkan apa-apa. Meski mendapat gesekan dari kanan-kiri depan-belakang, Dahlan kelihatan enjoy saja. Saya melihat meski Dahlan bukan politisi tapi Dahlan memiliki kecerdikan yang umum dimiliki politisi. Inilah yang membedakan Dahlan dengan profesional lain yang masuk ke jajaran pemerintahan. Sedikit banyak pengalaman Dahlan sebagai wartawanlah yang membentuk karakter cerdik seorang politisi itu. Ibarat permainan catur, tidak jarang Dahlan berada pada posisi di-skak mat. Tapi hanya dengan sedikit menggeser bidak caturnya Dahlan men-skak mat lawannya dengan secara mengejutkan. Saya ambil contoh kecil, ketika Dahlan dipanggil DPR saat masih menjabat sebagai Direktur PLN, Dahlan pernah dicecar pertanyaan yang sepertinya adalah sebuah skak mat. Salah seorang anggota DPR bertanya dengan nada menghakimi seolah di belakangnya ada jutaan rakyat Indonesia yang mendukungnya. Kenapa PLN bisanya hanya menaikkan tarif saja? Kasihan rakyat kecil! Begitu kurang lebih gertakan salah anggota DPR. Gertakan itu dibalas dengan sebuah tantangan oleh Dahlan Iskan. Dahlan menantang DPR bersama pemerintah untuk menggratiskan tarif listrik kalau berani. Tentu saja tantangan itu menjadi pukulan telak bagi anggota DPR yang tadi mencercanya. Karena naik turunnya TDL (Tarif Dasar Listrik) adalah kewenangan penuh pemerintah dan DPR. Bukan PLN. TDL sama sekali tidak berhubungan dengan besar kecilnya biaya produksi PLN, melainkan berhubungan dengan besar kecilnya subsidi yang akan diberikan pemerintah kepada rakyatnya dalam penggunaan listrik melalui PLN. Dan itu harus dengan persetujuan DPR. Dalam kasus di atas, oknum anggota DPR tadi sudah masuk perangkap yang selain berhasil dipukul balik oleh Dahlan juga berhasil ditelanjangi tingkat pemahamannya yang ternyata kurang. Beberapa waktu lalu muncul lagi kasus yang membuat Dahlan vis a vis DPR. Yakni isu kongkalikong. Isu ini rahasia umum yang dianggap tidak ada padahal semua meyakini dari dulu sudah ada. Pasca BK DPR memutuskan beberapa orang anggota DPR yang disebut terlibat ternyata tidak terlibat, Dahlan pun terancam dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik. Dahlan dituduh membuat laporan palsu ke BK DPR, satu. Dan dituduh mencemarkan nama baik karena telah menyebut anggota DPR yang ternyata tidak terlibat, dua. Dua tuduhan itu, dalam analisis saya adalah perangkap Dahlan berikutnya. Saya pikir Dahlan jauh-jauh hari sudah menyusun rencana B sebagai antisipasi dari akibat pelaksanaan rencana A. Itulah kenapa ketika Dahlan ditantang banyak pihak untuk melapor ke BK, KPK dan lain sebagainya. Dahlan bergeming. Dia beralasan, "saya akan datang kalau diundang secara resmi". Lebih lanjut di menjelaskan "Tugas saya adalah bersih-bersih di rumah sendiri bukan di rumah orang lain." Dan ada satu yang khas dari Dahlan dalam menanggapi segala macam statemen yang menyudutkan dirinya. Dia selalu melontarkan kata "tidak apa-apa". Saat dituduh pencitraan untuk 2014, Dahlan bilang "tidak apa-apa. Mau dibilang tulus, tidak apa-apa. Mau dibilang pencitraan, tidak apa-apa." Saat istrinya dituduh terlibat dalam salah satu proyek di PLN, Dahlan juga bilang, "tidak apa-apa. Dipanggil saja sekalian." Kalimat "tidak apa-apa" Dahlan ini adalah kalimat yang misterius dan membuat lawan-lawannya ketar-ketir atas strategi apalagi di balik kalimat "tidak apa-apa." Mari kita cermati kasus yang berpotensi membuat Dahlan dituntut oleh anggota DPR yang merasa dirugikan. Pertama, Dahlan dituduh membuat laporan palsu ke BK DPR. Tuduhan ini akan mentah saat nanti Dahlan menunjukkan surat panggilan BK DPR. Itu berarti Dahlan tidak pernah melapor ke BK DPR, melainkan hanya diundang BK DPR. Bagian mana yang palsu, wong melapor saja tidak. Itulah kenapa Dahlan bersikeras tidak mau datang ke BK DPR kecuali kalau dipanggil dengan surat resmi. Kedua, Dahlan dituduh telah mencemarkan beberapa nama anggota DPR yang diindikasikan terlibat. Tuduhan ini juga akan mentah, karena setiap usai Dahlan bertemu BK DPR Dahlan selalui bilang "sudah saya serahkan sepenuhnya ke BK DPR. Terserah BK mau membuka nama-nama itu atau tidak. Yang penting sudah saya serahkan sepenuhnya." Dan inisial-inisial yang kemudian muncul itu memang keluar pertama kali dari BK DPR bukan dari Dahlan Iskan. Itu berarti bukan Dahlan yang mencemarkan nama baik. Saya bukan pengamat politik jadi bisa saja prediksi saya ini akan meleset sama sekali. Atau bisa jadi benar. Kita seringkali terjebak dengan pola pikir media. Media-media selain Jawa Pos Groupnya Dahlan Iskan, sering menyebutkan bahwa Dahlan Iskan melapor, padahal Dahlan Iskan hanya memenuhi panggilan BK. Dua perbuatan yang sama, sama-sama mendatangi gedung DPR, tapi dengan konsekuensi hukum yang berbeda. Menarik ditunggu langkah-langkah apalagi yang akan dilakukan Dahlan dalam menghadapi berisiknya panggung politik. Dahlan memang bukan orang politik, tapi bukan berarti tidak tahu sama sekali dunia politik.