Skip to main content

Posts

DUA MENJEMPUT TIGA

pengembaraan ini telah sampai seperempat abad kurang dua tahun tidak lagi muda tapi belum juga matang rasanya pengarungan ini masih jauh sangat jauh dari tempat berlabuh tempo hari kukira aku sudah sampai pada tempat berlabuh tapi ternyata hanya singgah datang lalu pergi tuhan, berilah aku kompas dan peta kalau bisa, perangkat navigasi yang super canggih sekalian agar pelabuhan itu dapat segera aku temukan dua sudah menjemput tiga aku belum apa-apa untuk menjadi siapa-siapa Kamar, 181208 (sebuah kado ulang tahun dari orang sombong untuk orang sok tahu)

MUSEUM ELPIJI

Akhir-akhir ini elpiji lagi-lagi sulit ditemukan. Distribusinya payah dan tidak becus hingga aku harus muter-muter kecamatan untuk mendapatkan gas elpiji. Apa hasilnya? hingga tangki bensin motorku kosong, elpiji tak kutemukan juga. SIALAN!!!! Mungkinkah elpiji dimuseumkan saja. Sebelum elpiji benar-benar menjadi barang langka, aku menyempatkan diri berpose bersama tabung elpiji 3 kg. Mungkin saja, beberapa tahun lagi, kita tidak akan bisa mendapatkan tabung elpiji 3 kg dan pada waktu itu elpiji 3 kg akan menjadi barang langka. Dan kalau memang iya, maka aku adalah orang yang paling bangga, karena telah berpose dengan barang langka tersebut. Kelak orang-orang akan memburu foto mesraku dengan tabung elpiji 3 kg, untuk mengenang bahwa di suatu masa di Tahun 2008 ada sebuah benda yang disebut tabung gas elpiji 3 kg. Ini adalah dokumentasi yang sangat penting bagi anak cucu kita ke depan.

SHOCKBREAKER

Sudah berbulan-bulan aku selalu menggerutu ketika motor Yamaha Vega R yang kunaiki melalui jalan yang tidak rata, bahkan tidak jarang dibalik helm aku memaki-maki tidak jelas ketika dalam kecepatan tinggi lalu tiba-tiba jalannya bergelombang. Salah satu penyebabnya adalah Shockbreaker motorku yang sudah mati. Btw, kebanyakan orang Jawa menyebut shockbreaker dengan sekok. Contohnya cak Hadi, tukang bengkel langgananku menyebutnya sekokbeker. Sungguh ejaan yang salah. shockbreaker diambil dari dua kata yaitu "Shock" yang berarti kejutan dan "Breaker" yang berarti perusak. Kalau digabung, maka artikan sediri. Kurang lebih pengertiannya adalah untuk mengurangi rasa terkejut pengendara ketika melalui jalan sialan yang tidak rata. Tapi itu tidaklah substansi. Toh untuk memudahkan urusan aku juga biasa menggunakan ejaan SEKOK. Kembali ke cerita. Kalau sekok mati dan kamu melewati jalan yang tidak rata apalagi dalam kecepatan tinggi, maka perutmu akan seperti dikocok. Andai...

Always, Laila. GILA!!!

Gemuruh di hatiku mereda sendirinya langit menjadi lebih cerah dan udara tak lagi menyesakkan dada Mungkin karena telah kutemukan definisi lain dari cinta Makna tak lagi berasal dari pertemuan dan rasa rindu membuatku bahagia (sebuah puisi untuk Laila dari Almarhum Phrameswara) Tak rugi aku memburunya seperti singa kelaparan. Hampir semua toko buku di Surabaya sudah aku jelajahi. Bahkan distributor GagasMedia pun sudah kehabisan stok pada waktu aku meneleponnya. Mau lari ke mana lagi? Cari di toko online, sama. Kehabisan stok. Tapi perjuangan yang tak kenal lelah itu pun membuahkan hasil. Bermula dari keluh kesahku yang aku tumpahkan di friendsternya Andi Eriawan, sang penulis novel yang membuat pipi banyak pembacanya basah. Salah seorang pengemar Andi Eriawan menanggapinya. Dikatakannya, dia sempat melihat Novel Always, Laila di sebuah program obral buku di salah satu mall di Malang. Namanya MOG. Aku belum pernah dengar, tapi katanya itu mall baru. Pantas saja, pasti belum diresmikan....

Awak Remek!

Setelah semalaman (23/10) tidak istirahat gara-gara laptop ngadat dan PC di basecamp yang bangsat, padahal tuntutan untuk segera menyelesaikan Tashwirul Afkar, si bulletin yang biasa memaksaku kerja rodi sudah semakin dekat. Pekerjaan layout yang cukup memeras fikiran (yang bener pikiran, bung! Tapi fikiran lebih punya taste!) dan tenaga itupun aku boyong ke rumah dengan terlebih dahulu menginstall ulang Laptopku yang (gak) Compaq ini. Sore hari, pekerjaan selesai, badan rasanya capek dan mau meriang. Tapi itu tidak boleh menjadi alasan tidak pergi kuliah, biar aku tetap dianggap mahasiswa sama orang-orang. Pulang kuliah, sebagai ketua yang baik hati dan pandai mengaji, aku menyempatkan diri untuk mengikuti rapat panitia raker. Dan setelahnya, rencana untuk berziarah ke makam Sunan Ampelpun harus dijalani. Sekali lagi, sebagai ketua yang baik hati dan pandai mengaji, meskipun badan rasanya sangat lelah belum istirahat sama sekali akupun memenuhi janji. Malu sama malaikat yang terlanjur...

TEMAN-TEMAN HEBAT DI HARI YANG BERAT

Bu Mus dan murid-murid hebatnya berdiri di halaman sekolah mengantar kepergian Lintang, murid paling jenius yang hanya karena nasib baik tidak memihak padanya harus meninggalkan bangku sekolah yang dicintainya. Anak miskin tapi jenius itu mengayuh sepedanya meninggalkan jejak ban sepedanya di tanah pelataran sekolah untuk terakhir kali diiringi tatapan kehilangan bu Mus dan kawan-kawan tercintanya. Sebagai sahabat yang sangat mengagumi Lintang, Ikal tidak menerima kepergiannya. Dikejarnya Lintang. Dengan air mata menetes ia berteriak "Lintang...!!" Ia gagal menghentikan kepergian Lintang. Tapi ia berhasil menyimpan nasehat-nasehatnya hingga ia bisa mencapai masa depan yang teramat cerah. Penggalan adegan itulah yang paling aku sukai dari film "Laskar Pelangi" karena mampu membuatku haru dan hampir menitikkan air mata. Film yang aku tonton bersama sahabat-sahabat hebatku. Teman-teman seperjuangan IPNU-IPPNU Waru. Nonton bareng mereka yang dilanjutkan dengan nongkrong...